Big Match Juventus vs Lazio

Big Match Juventus vs Lazio

747
36
SHARE
bigmatch juventus vs lazio

Rebutbola – Big Match kali ini, Rebutbola.com memilih pertandingan final Coppa Italia antara Juventus dan Lazio. Final ideal yang akan disajikan di Olimpico, Roma pada tangga 21 Mei ini diprediksi akan berlangsung ketat mengingat kedua tim yang sama sama memiliki target. Sejarah pertemuan kedua tim lebih di dominasi oleh Si Nyonya Tua, hal ini bisa dilihat dari empat pertandingan sebelumnya yang mana Juventus berhasil mendapatkan tiga kali kemenangan dan sekali hasil imbang.

Juventus yang saat ini dalam performa meyakinkan akan kembali berhadapan dengan tim Elang Biru. Ya, Lazio yang merangsak ke posisi runner up menjadi tim yang cukup ditakuti di Italia musim ini, namun dengan skuad yang sulit ditembus, Buffon dkk yakin pertandingan ini akan berpihak kepada mereka dan meraih gelar keduanya setelah trofi Serie A. Hal lain yang bisa menjadi pelecut semangat anak asuh Allegri adalah Final Liga Champions yang mana jika mereka ingin mendapatkan treble, Juventus harus berusaha semaksimal mungkin untuk memenangkan dua laga final yang sudah menunggu mereka.

Tak seperti Juventus yang diburu partai final untuk mendapatkan treble, Lazio kali ini hanya memiliki satu kesempatan final untuk bisa mendapatkan trofi. Tim yang di cap sebagai underdog oleh banyak pengamat sepakbola ini diprediksi akan mendapatkan kesempatan yang sama untuk memenangkan pertandingan. Dalam pertandingan tersebut Lazio harus kehilangan salah satu pemain kuncinya, Lucas Biglia yang mendapatkan cidera lutut beberapa waktu lalu.

Backup_of_FORMATION HEAD TO HEAD

KEY

Rebutbola – Dalam pertandingan Big Match Juventus vs Lazio, kali ini Rebutbola.com memilih tiga pemain yang diprediksi akan menjadi pemain kunci dalam pertandingan tersebut. Mau tahu siapa ? simak nih Rebuters

Juventus :

Gianluigi Buffon : Penjaga gawang kawakan milik Juventus ini mungkin menjadi salah satu pemain berumur yang masih menjadi andalan timnya. Hal ini dibuktikan dengan jam terbangnya bersama Juventus, 31 kali. Meskipun telah berumur 37 tahun, pemain asal Italia tersebut tak perlu lagi ditanya kualitasnya menjaga gawang milik Nyonya Tua.

Morata : Striker yang saat ini tengah naik daun, Morata mungkin bisa menjadi andalan baru Juve. Berduet dengan Tevez di lini depan menjadi duet berbahaya yang ditakuti banyak tim besar di Eropa. Meskipun baru mencetak 8 gol dari 28 pertandingan, diprediksi dalam pertandingan final tersebut sang pemain bisa menambah jumlah golnya dan membawa Juve meraih trofi keduanya musim ini.

Pirlo : Pemain tengah yang sangat piawai memainkan ritme permainan tim, Pirlo mungkin menjadi pemain belakang layar yang sangat sukses membuat tim lain tunduk kepala. Ya, meskipun berumur 36 tahun, kepiawaiannya dalam mengatur alur permainan tim sangat menjadi kelebihan yang jarang dimiliki oleh pemain tengah lain. Diprediksi Pirlo akan menjadi starter dan memberikan umpan manis kepada Morata dan Tevez guna memberikan trofi di laga tersebut.

Lazio :

Felipe Anderson : Lazio beruntung memiliki gelandang muda tangguh seperti Anderson. Pemain Brazil ini, selain kuat dalam memainkan ritme, dirinya juga memiliki insting dalam mencetak gol. Hal ini dibuktikan dengan 10 gol yang sudah disumbangkannya kepada Lazio.

A.Candreva : Candreva yang kerap menjadi pemain kunci di beberapa pertandingan terakhir diprediksi akan kembali menunjukan taringnya. Selalu di andalkan untuk memberikan umpan manis kepada Klose, Candreva disinyalir akan dipasang sebagai starter di pertandingan final Coppa Italia kontra Juve.

Klose : Klose, striker kawakan milik Lazio diprediksi akan kembali menjadi pemain yang sulit dihentikan oleh pemain bertahan Juve. Telah mencetak 12 gol dari 32 pertandingan yang dijalani membuktikan bahwa dirinya masih haus gol.

[total-poll id=11321]

Olimpico Rome
Olimpico Rome

Rebutbola – Stadion Olimpico merupakan stadion milik pemerintah kota Roma dan merupakan rumah bagi Timnas Italia. Selain itustadion ini juga merupakan rumah bagi 2 klub besar Italiayaitu S.S Lazio dan A.S Roma. A.S Romadidirikan pada tahun 1927, “I Giallorossi” ini memiliki prestasi 3 kali menjuarai Serie A, 9 kali Copa Italia dan 2 kali Super Italia serta 1 kali menjuarai Liga Eropa. Sedangkan Lazio didirikan pada tahun 1900, pertasi dari “Biancocelesti” adalah 2 kali menjuarai Serie A, 1 kali Serie B, 6 kali Copa Italia, 1 kali Piala Winners dan 1 kali Super Eropa. Pertemuan kedua klub ini di stadion yang sama yaitu Olimpico disebut dengan Derby Della Capitale.

Dalam bentuknya yang paling awal stadion Olimpico (pada waktu itu disebut Stadion Cypress) dirancang dan dibangun sebagai bagian dari proyek yang lebih luas dari Kota Sport bernama Foro Mussolini (berganti nama menjadi Foro Italico setelah perang).

Pekerjaan stadion dimulai pada tahun 1927, dirancang oleh arsitek Enrico Del Debbio, diresmikan pada tahun 1932. Pada tahun 1932, Enrico Del Debbiomerancang tiga tahapan yang berbeda, yang disebut ratus ribu, yang tidak menemukan implementasi. Tetap model piring indah yang digambarkan dalam proyek ini di mana stadion itu bersandar pada satu sisi bukit yang diukir di bangku-bangku pada stadion. Pekerjaan dilanjutkan pada tahun 1937 di tanganarsitek Friston Pintonello. Memberikan fasilitas pertama untuk acara senam dan olahraga lainnya, tetapi pekerjaan telah dihentikan pada 1940 karena pecahnya perang dunia.

Pada bulan Desember 1950, mereka kembali lagi untuk penyelesaian stadion. Proyek ini dipercayakan kepada Carlo Roccatelli, anggota Dewan Pekerjaan Umum, yang disaran oleh arsitek Cesare Valle yang juga menjadi slah satu anggota forum menteri tinggi. Pada awalnya, diputuskan untuk membangun struktur yang lebih kompleks dari yang sebenarnya dibuat, tetapi karena kekurangan dana dan karakteristik lingkungan daerah menyebabkan kurang ambisiusnya pembangunan stadion ini. Pada kematian Roccatelli pada tahun 1951, arah pekerjaan itu dipercayakan kepada arsitek Annibale Vitellozzi. Tempat ini di fokuskan ke daya tampung di kapasitas sekitar 100.000 orang (maka nama ‘Stadion ratus ribu, dimana mana sistem ini disebut sebelum 1960), dalam pandangan Olimpiade XVII.

Struktur ini diresmikan pada 17 Mei 1953 dengan pertandingan sepak bola Italia – Hungaria dan pertandingan antara Napoly vs Roma dari Tour of Italy.

Selama tahun 1960 stadion Olimpico adalah tempat dari upacara pembukaan dan penutupan, dan kompetisi atletik. Tempat berdiri dihilangkan dengan hasil membawa kapasitas sebenarnya dari 65.000 penonton. Kemudian ditempatkan berbagai edisi dari kejuaraan Italia dalam bidang atletik, Kejuaraan Dunia Atletik dilaksanakan pada tahun 1987 dan masih menjadi tuan rumah pertemuan tahunan yang disebut  “Golden Gala”.

Fitur utama dari stadion ini adalah elevasi mengejutkan yang rendah dari tanah, meskipun kapasitas yang cukup besar, serta setelah tahap yang direncanakan oleh Enrico Del Debbio dalam draft tentang Master Plan Foro Italico. Hasil ini dicapai berkat sottoelevazione pada sebagian lapangan  juga memanfaatkan bentuk alami dari tanah disekitarnya membuat yang model cekungan terjadi pada stadion. Berkat mengukur sistem ini maka stadion terintegrasi sempurna dengan lingkungan sekitarnya dan memberikan dampak visual sangat menyenangkan dan konten. Kursi pada awalnya dibangun dari kayu, kemudian digantikan oleh kursi moderen. Pembangunan struktur atap kecil juga terjadi pad stadion ini dimana hanya menutupi sebagian kecil dari Tribuna Monte Mario.

Dalam 1953-54 musim A.S. Roma pindah ke arena Olimpiade, Stadion Olimpico. Arena telah mengalami beberapa perubahan selama bertahun-tahun. Perubahan yang paling signifikan terjadi di tahun sembilan puluhan ketika Stadio Olimpico dihancurkan dan kemudian direkonstruksi untuk untuk Sepakbola Piala Dunia 1990.

A.S. Roma telah memainkan hampir setiap musim sejak 1953-54, dengan pengecualian dari 1989-1990 musim karena rekonstruksi Stadio Olimpico. Tahun itu Roma bermain di Stadio Flaminio.

30 Desember 2012 Presiden AS Roma, James Palotta mengumumkan pembangunan stadion baru di Tor di Valle. Struktur baru dijadwalkan akan dibuka pada tahun 2016. Stadion baru akan memiliki kapasitas 60.000 penonton.

Selain itu, stadion Olimpico bukan hanya rumah bagi klub AS Roma tetapi stadion ini juga menjadi rumah dari klub sekota mereka yaitu Lazio.

Lazio didirikan sebagai klub atletik di bulan Januari 1900, dan penggemar Lazio sangat bangga atas warisan mereka kepada klub. Dengan akurasi serta kebanggaan Laziali menyebut tim mereka tim pertama ibukota.Selama musim 1989-1990 Lazio dan Roma bermain di Stadio Flaminio Roma, terletak di distrik Flaminio, karena pekerjaan renovasi dilakukan di Stadion Olimpico, setelah itu mereka kembali ke Olimpico pada saat pembangunannya telah selesai.

Menjadi ‘Societa Sportiva’ pada tahun 1925, ruang lingkup Lazio mencakup olahraga lainnya serta sepak bola, termasuk rugby. Tim berhasil terhormat di awal tahun, meskipun tidak menang apa-apa untuk diperhatikan. Mereka juga menghadapi persaingan dar klub yang baru didirikan yaitu AS Roma.

36 COMMENTS