Pelatih dan Manajer, Samakah?

Pelatih dan Manajer, Samakah?

633
0
SHARE
Pelatih dan Manajer, Samakah?

Pelatih dan Manajer: Manajer Memiliki Wewenang Yang Lebih Luas Daripada Pelatih

Rebutbola – Liga Premier saat ini terdiri dari empat kepala pelatih – Tottenham dengan Mauricio Pochettino, Tony Pulis dari West Brom, Sunderland dengan Gus Poyet dan Carver. Mereka menjabat sebagai kepala pelatih, bukan manajer. Tahukah Anda perbedaan antara kepala pelatih dan seorang manajer?

Ada perbedaan utama antara kedua peran. Seorang manajer memiliki wewenang yang lebih luas dengan kontrol penuh atas stafnya, transfer dan kontrak pemain kecuali, tentu saja, mereka bekerja di bawah campur tangan pemilik. Sementara kepala pelatih hanya melatih dan memilih tim, dengan pemilik atau direktur sepakbola yang berurusan dengan tetek-bengek lainnya.

Manchester United ataupun Arsenal, dengan Ferguson sebelum pensiun maupun Arsene Wenger sama-sama berada dalam kategori manajer klasik khas sepak bola Inggris.

Pelatih dan Manajer, Samakah?
Benitez saat menjabat sebagai manajer Liverpool

Penunjukkan direktur akademi adalah bagian paling sahih dari besarnya wewenang manajer. Seperti yang terjadi di Liverpool bersama Rafael Benitez di tahun 2008 di mana ia menunjuk orang kepercayaannya Frank McParland dan Rodolfo Borrell untuk menangani dan mendikte ke arah mana akademi Liverpool akan berkembang.

Pochettino pernah menjelaskan: “Jika Anda manajer, Anda memutuskan banyak hal tentang klub. Tapi jika Anda seorang kepala pelatih, tanggung jawab Anda adalah untuk bermain lebih baik, mencoba untuk meningkatkan pemain dan untuk mendapatkan hasil yang positif.”

Pelatih dan Manajer, Samakah?
Mauricio Pochettino, kepala pelatih Tottenham

“Ketika di Southampton, saya adalah seorang manajer. Tanggung jawab saya tidak hanya untuk melatih tim. Dengan Tottenham, Saya seorang kepala pelatih. Seorang kepala pelatih adalah kepala departemen Anda. Departemen saya adalah untuk melatih tim.”

Keuntungan dari seorang kepala pelatih adalah mereka dapat berkonsentrasi penuh pada tim tapi kelemahannya adalah, ketika hasil tidak sesuai rencana, mereka dapat protes, “Semua ini karena saya tidak menandatangani pemain ini dan saya tidak memiliki staf yang tepat. “

Mantan kepala pelatih Sunderland, Paolo Di Canio membuktikan ini karena ia menyalahkan semua orang kecuali dirinya sendiri ketika ia dipecat setelah hanya bertugas di 13 pertandingan pada September 2013.

Di Canio menegaskan: “Tidak ada salah satu dari mereka [pemain] yang direkrut oleh saya. Roberto De Fanti dan Valentino Angeloni adalah dua bertanggung jawab untuk itu kesalahan teknis, dengan dukungan maksimal dari ketua, Ellis Short. Tapi saya tidak membawa satu pemain pun. Saya meminta mereka untuk membawa 80 persen pemain Inggris. “

Lain Inggris, lain pula di Negri Eropa lainnya.

Struktur organisasi sepak bola Eropa lebih mendetil dengan dihadirkannya seorang berposisi sebagai direktur sepak bola. Klub-klub Eropa daratan secara umum menggunkan sistem hirarki seperti ini.

Direktur sepak bola  membuat peran ‘manajer’ menjadi lebih kecil, fokus dan tidak menyeluruh. Direktur sepak bola adalah orang kepercayaan jajaran direksi klub untuk menyelenggaran bisnis, menjadi penghubung dan bahkan tidak jarang lebih besar lagi.

Dalam sepak bola Eropa tak ada istilah manajer melainkan head coach atau pelatih kepala. Pelatih hanya fokus pada persiapan tim di hari pertandingan, mereka tidak mengurusi transfer – hal ini pula yang membuat sosok ‘pelatih’ jauh lebih paham mengenai taktik ketimbang manajer.

Pelatih dan Manajer, Samakah?
Sir Alex Ferguson, mantan manajer Manchester United

Contoh lain dalam kasus di atas adalah Ferguson yang dianggap memberikan kesempatan bagi para asistennya untuk memperiapkan taktik pertandingan, ia tidak ambil pusing dan berurusan dengan team-talk saja sebelum pertandingan.

Dalam pertandingan di Europa League antara Tottenham kontra Benfica tiga musim lalu, pelatih Benfica, Jesus meledek manajer Spurs, Tim Sherwood karena hanya memberi semangat tanpa instruksi taktik dari pinggir lapangan. “Orang Inggris itu tak mengerti taktik,” kata Jorge Jesus paska pertandingan.

Karena perbedaan tersebut itu pula bisa ditarik kesimpulan mengapa pelatih-pelatih Britania jarang ada yang tampil di luar Inggris. Hal itu disebabkan oleh tuntutan taktik yang lebih besar di Eropa daratan dan juga kecilnya peran mereka dalam hal transfer pemain.

rebutbola.com