Soekarno, Sepak Bola dan Bahasa Perjuangan

Soekarno, Sepak Bola dan Bahasa Perjuangan

532
0
SHARE
Soekarno, Sepak Bola dan Bahasa Perjuangan

Perhatian Soekarno untuk Dunia Sepak Bola Indonesia

Rebutbola Apa jadinya Indonesia tanpa sepak bola. Olahraga si kulit bundar sudah sangat membumi sekali dengan masyarakat yang berada di Republik ini, bahkan hal itu terjadi sebelum neorialisme memborbardi negri ini, dahulu hampir setiap kampung memiliki lapangan sepak bolanya sendiri.

Olahraga ini bukan hanya dicantai oleh masyarakat biasa saja, tetapi sang foundation father bangsa ini, yaitu. Ir Soekarno merupakan salah satu pecinta olahraga yang dimainkan oleh 11 orang ini, kira-kira umur 10 tahun, Bung Karno sangat berminat pada perkumpulan sepak-bola. Tan Malaka juga pencinta sepak bola.

Sayang, pada jaman itu, sepak bola seolah ‘diharamkan’ bagi bumiputra. Saat itu, Bung Karno bermukim di Mojokerto. Anak-anak belanda tidak mau bermain bola dengan anak-anak bumiputera. Tidak jarang tertempel tulisan “Verboden voor Inlanders en Houden” atau “Dilarang Masuk untuk Pribumi dan Anjing” di setiap pintu lapangan sepak bola.

Tak mau menyerah, kaum pribumi membuat klub sendiri. Bahkan, mereka sering membuat kompetisi sendiri. Dari situlah berdiri Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (sekarang PSSI). Perkumpulan ini dipimpin oleh Ir Soeratin Sosrosoegondo.

Cita-cita Bung Karno menjadi anggota perkumpulan sepak-bola pun kandas. Meski demikian, Bung Karno tetap berhubungan dengan para penggagas sepak bola bumiputera. Kelak, sepak bola ini menjadi ajang konsolidasi gerakan untuk memerdekan Indonesia.

Perhatian Bung Karno terhadap bola tidak pudar. Begitu Indonesia merdeka, sepak bola menjadi salah satu cabang olahraga yang diprioritaskan untuk dikembangkan agar bisa mendulang prestasi di tingkat dunia.

Usaha itu tidak berakhir sia-sia. Tahun 1954, PSSI melakukan lawatan ke sejumlah negara Asia (Filipina, Hongkong, Thailand, dan Malaysia). Hampir semua tim negara tersebut berhasil ditaklukkan. PSSI mencetak 25 gol dan hanya kemasukan 6 gol. 19 gol diborong oleh Andi Ramang pemain PSSI kelahiran Makassar yang bertindak sebagai penyerang.

PSSI saat itu diperkuat oleh pemain-pemain handal, seperti. Andi Ramang  (striker), Maulwi Saelan (kiper), Rasjid, Chaeruddin, Ramelan, Sidhi, Tan Liong Houw, Aang Witarsa, Thio Him Tjiang, Danu, Phoa Sin Liong, dan Djamia.

Tak puas berjaya di Asia, PSSI mulai menjajal timnas atau klub-klub eropa. Yugoslavia, Uni Soviet, klub Stade de Reims, klub Locomotive, dan lain-lain. Indonesia juga sempat melibas RRT (Repulik Rakyat Tiongkok) dengan skor 2-0. Dua gol itu diciptakan Ramang. Satu gol diciptakan dengan tendangan salto, pada saat itu Andi Ramang adalah striker kelas wahid di bumi bagian selatan.

Timnas Indonesia Asian Games 1958
Timnas Indonesia Asian Games 1958 Menjuarai Perunggu – photo

Pada Asian Games tahun 1958, Indonesia mendapat perunggu dari cabang sepak bola. Sedangkan pada saat Olimpiade di Melbourne, Australia, tahun 1956, Indonesia sempat menahan imbang raksasa Uni Soviet. PSSI baru ditundukkan setelah perpanjangan waktu. Soviet sendiri jadi juara umum kala itu.

Bung Karno sendiri menganggap olahraga sangat penting. Terlebih bagi bangsa Indonesia yang sedang menjalankan “nation building”. Olahraga, di mata Bung Karno, adalah alat revolusi. Karenanya, ia segera mengeluarkan Kepres No 263/1963 untuk mencanangkan Indonesia jadi 10 besar dalam bidang olahraga.

Tidak berhenti di situ, Soekarno juga menganggap olahraga sebagai proses pembangunan kembali martabat bangsa. Karenanya, pada tahun 1958, Bung Karno berniat membangun gelanggang olahraga. Proyek itu meraup anggaran sebesar US$ 12,5 juta atau Rp 117,6 miliar. Semuanya atas bantuan Uni Soviet.

Istana Olahraga (Istora) selesai dibangun pada 21 Mei 1961: Stadion Renang, Stadion Madya, dan dan Stadion Tenis (Desember 1961), Gedung Basket (Juni 1962), serta Stadion Utama (21 Juli 1962). Kompleks stadion olahraga dibangun selama 2 1/2 tahun, siang dan malam oleh 14 insinyur Indonesia, 12.000 pekerja sipil dan militer bergantian dalam 3 shift.

Pembangunan GBK
Pembangunan GBK – photo

Yang menarik, Bung Karno sukses membangun stadion sepak bola yang bisa menampung 100.000 orang. Stadion ini kelak bernama Gelora Bung Karno (GBK) termasuk stadion terbesar dan termegah pada jamannya. Stadion ini menggunakan arsitektur temu gelang (melingkar). Sayang, pada tahun 2007, stadion ini disusutkan kapasitasnya menjadi 80.000.

Bung Karno sendiri mengatakan, “Ya, memberantas kelaparan memang penting, tetapi memberi makan kepada jiwa-jiwa yang telah diinjak-injak (kolonialisme) dengan sesuatu yang dapat membangkitkan kebanggaan mereka inipun penting.”

Ingat stadion Gelora Bung Karno (GBK) berarti ingat Bung Karno. Stadion GBK adalah satu-satunya yang tersisa dari jaman kejayaan sepak bola kita. Sayang, pemerintah sekarang tak punya perhatian terhadap sepak bola, pemerintah saat ini dirasa kurang fokus atau pura-pura tidak tau bahkan tidak mau tau tentang apa yang dicintai oleh rakyatnya. Sepak bola hanya diurus ala kadarnya saja.

Rebutbola.com