3 Alasan Kuat Simeone Jadi Manajer Terbaik Dunia

3 Alasan Kuat Simeone Jadi Manajer Terbaik Dunia

411
0
SHARE
3 Alasan Kuat Simeone Jadi Manajer Terbaik Dunia

Setiap Laga Layaknya Partai Final Bagi Simeone

Rebutbola – Ketika Diego Simeone diangkat sebagai pelatih Atletico Madrid pada 2011, timnya lebih dekat dengan zona degradasi dibanding dengan Piala Eropa. Tapi El Cholo merebut kesempatan untuk menjadi pelatih Atletio dan tidak hanya mengubah tim dan identitas mereka. Ia juga menetapkan paradigma baru dalam skenario terburuk, tepatnya ketika ilmu pengetahuan sepakbola telah memutuskan bahwa berkat Guardiola dengan Barcelona-nya, ​​hampir semua hal adalah tentang penguasaan bola.

Simeone tidak mementingkan hal itu, dan tidak peduli tentang penguasaan bola yang tinggi atau tidak. Dan tibalah saatnya sebuah liga yang seharusnya dimiliki dua klub terbuka menjadi tiga klub. Adapun klub ketiga adalah klub yang paling lemah dari segi sumber daya dan anggaran, tetapi kaya akan ide-ide cemerlang. Menyukai gaya sepakbolanya atau tidak, Anda tidak bisa membantah keberadaannya, atau terhadap hasil-hasilnya.

Dilansir dari Fourfourtwo, berikut beberapa alasan mengapa Diego Simeone layak dinobatkan sebagai manajer terbaik dunia.

Membangun Tim yang Solid

Musim pertama Simeone adalah Liga Europa, dan kemudian Atletico masuk ke Liga Champions dengan dua penampilan terakhir, yang benar-benar membuatnya dinobatkan sebagai manajer terbaik di dunia.

“Sepakbola adalah tentang kesalahan. Semakin sedikit kesalahan yang Anda buat, semakin dekat Anda meraih kemenangan. Ini adalah suatu kebohongan bahwa mereka yang menyerang lebih banyak mempunya peluang yang lebih dekat dengan kemenangan. Dan untuk itu kami bekerja dengan titik-titik lemah lawan,” tutur Simeone dalam suatu kesempatan.

3 Alasan Kuat Simeone Jadi Manajer Terbaik Dunia

Untuk meningkatkan rasa pluralisme dan usaha tim, Simeone tidak pernah menggunakan kata ‘aku’. Ia selalu menggunakan ‘Kami’.

Tidak seperti manajer lain yang menikmati generasi emas pemain, pelatih asal Argentina itu hanya memiliki skuad rata-rata dan dipaksa untuk membangun kembali timnya setiap musim. Ia bahkan mengorbitkan pemain-pemain biasa menjadi memiliki nilai jual tinggi seperti Radamel Falcao, Arda Turan, Filipe Luis, Diego Costa dan Miranda.

Untuk seseorang yang hanya peduli tentang kemenangan, kehilangan dua final Liga Champions dapat menghancurkan semangat. Namun Simeone selalu berpikri positif, berkeinginan untuk lebih, selama ia mengidentifikasi penyebab dari kekalahannya.

“Tanpa kerja sama tim, tanpa mempersiapkan mereka untuk mengalami penderitaan sebagai sebuah tim, semuanya akan terasa lebih buruk,” ungkap Simeone.

Setiap Saat Penting
3 Alasan Kuat Simeone Jadi Manajer Terbaik Dunia
Simeone berikan instruksi kepada Torres

Sejak kedatangannya di Eropa, setelah memenangi gelar dengan Estudiantes dan River Plate di Argentina, Simeone tidak hanya terbukti menjadi seorang yang hebat akan taktik, tetapi ahli strategi yang hebat juga, serta memiliki analisis jangka panjang. Dia menikmati setiap laga yang dilakoni timnya, daripada beberapa pertandingan penting. Itu sebabnya timnya memainkan setiap pertandingan layaknya pertandingan final.

“Sebagai pemain, saya merasa bahwa sepakbola adalah perang dan bahwa saya harus membunuh lawan. Saya harus lebih kuat untuk bekerja lebih, untuk mendapatkan ruang gerak lawan, untuk mengalahkan lawan,” tutur Simeone.

Anda dapat mengenali kata-kata Simeone dalam tim saat ini. Tak peduli apakah mereka sedang bermain melawan klub divisi ketiga di Copa del Rey, atau menghadapi Bayern Munchen di Liga Champions, kekuatan yang Atletico tampilkan selalu sama.

Ideologi Simeone

Komitmen dan komunikasi penting bagi kesuksesan dan Simeone memiliki segalanya. Dia mengendalikan para pemainnya, membangun mereka dari awal dan tahu bagaimana merangkul para fans dan membuat mereka sukses secara global, dan menggunakannya sebagai bahan bakar untuk melangkah lebih jauh. El Cholo adalah untuk Atletico Madrid layaknya Steve Jobs untuk Apple.

3 Alasan Kuat Simeone Jadi Manajer Terbaik Dunia
Griezmann saat rayakan gol bersama sang pelatih

Anehnya, ia bahkan tidak pernah dinobatkan sebagai runner-up FIFA Coach of the Year Award, meskipun kesepakatan umum menyebutkan bahwa tidak ada yang mau menghadapi timnya. Ketika ditanya tentang hal itu tiga tahun yang lalu, ia bercanda menjawab: “Jika mereka tidak memilih kami, berarti kami melakukan sesuatu yang salah. Tapi kami berterima kasih kepada mereka karena itu akan membuat kami berusaha lebih keras.”

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar La Nacion, pelatih yang memenangi Piala Dunia 1978, Cesar Menotti mengatakan: “Seorang manajer adalah kepala pasukan komando. Dia harus mempersiapkan tentara, dan menggunakannya secara sesuai. Jika manajer tahu bahwa seorang prajurit baik dalam menggunakan pistol, tapi kemudian menempatkan prajuritnya di dapur dan mengirimkan juru masak ke medan perang, maka dia tolol.”

“Aturan pertama dari seorang manajer adalah untuk menemukan pemain yang mewakili ide-idenya.”

Hadiah terbesar Simeone adalah untuk menciptakan sebuah pasukan elit dengan orang-orang yang hanya bekerja di dapur. Dan berkatnya, juru masak menjelma menjadi tentara yang siap untuk satu kata “MENANG”.

Rebutbola.com