Titik Awal Revolusi Sepakbola Sebagai Ladang Uang

Titik Awal Revolusi Sepakbola Sebagai Ladang Uang

91
0
SHARE
Titik Awal Revolusi Sepakbola Sebagai Ladang Uang
sepakbola dan uang

Aturan Bosman yang Lahir Pada 1995 Telah Merevolusi Sepakbola Industri

Rebutbola – Dunia Sepakbola dalam satu dekade terakhir, bukan hanya menjadi sebuah olahraga saja, namun kini telah berevolusi kepada sebuah industri yang menghasilkan nilai jutaan euro.

Contohnya saja perekrutan fantastis seperti Cristiano Ronaldo, Gareth Bale, dan yang terbaru Paul Pogba yang mencapai angka hingga ratusan juta euro, jika dilihat secara awam nilai tersebut sangat tidak masuk akal.

Baca juga : [Susunan pemain terbaik Liga Inggris di pekan pertama]

Namun dari sisi bisnis, ini bisa menjadi sebuah investasi yang dapat berpotensi meraup untung berkali-kali lipat.

Tapi tahukah Anda jika tidak ada nama Jean Marc Bosman, tak akan pernah ada harga transfer yang mencapai nilai ratusan juta euro.

Kisah

Jean Marc Bosman
Jean Marc Bosman

ini terjadi ketika pada tahun 90an awal Bosman yang kala itu bermain untuk klub Belgia RC Liege dan telah habis masa kontraknya itu ingin hijrah ke klub Prancis US Dunkerque, namun kepindahannya itu ditolak oleh klub lamanya karena Liege ingin Dunkerque membayar mahar sebesar 1,2 juta euro untuk Bosman padahal sang pemain telah habis masa kontraknya.

Akibat dari peristiwa itu, klub asal Prancis itupun mengurungkan niatnya dan membuat Bosman melakukan gugatan ke pengadilan hingga masuk ke Mahkamah tertinggi Uni Eropa.

5 tahun setelah gugatan pertama atau tepatnya pada tahun 1995, Bosman pun akhirnya memenangkan kasusnya, dan setelah gugatan itu, Mahkamah Uni Eropa pun mengeluarkan peraturan terbaru atau yang biasa disebut aturan Bosman yang berisi :

  • Melarang adanya harga transfer untuk pemain yang telah selesai masa kontraknya. Sebelum itu, klub bisa mendapatkan kompensasi dari transfer pemain meskipun pemain tersebut telah habis kontraknya. Selain itu, klub juga bisa mengganjal perpindahan pemain yang habis masa kontraknya ke klub lain.
  • Klub tidak berhak menahan pemain yang masa kontraknya selesai untuk mendapatkan kompensasi. Pemain tersebut masuk kategori “bebas transfer”. Jika pemain tersebut menandatangani kontrak jutaan dolar, klub lamanya tidak mendapatkan apapun. Klub pembelinya bisa menjadikan nilai transaksi tersebut sebagai gaji bagi pemain tersebut dalam masa kontrak.
  • Menolak batasan pemain asing yang boleh bermain dalam pertandingan di liga dalam negara-negara Eropa seperti yang diberlakukan UEFA. Sebelumya, UEFA menetapkan peraturan “tiga plus dua” untuk pemain asing yang turun dalam turnamen Eropa, yakni hanya boleh tiga pemain luar Uni Eropa dan dua pemain “asimilasi”, yakni pemain asing yang sudah bermain di liga melalui jalur pemain muda.

Dampaknya pun sangat besar dalam dunia Sepakbola, bukan hanya klub bisa mendapat pemain gratis yang habis masa kontraknya namun pihak klub lama tak akan mendapat fee atas pemain yang sudah habis masa kontrak jika ia dipinang oleh klub lain dan itu membuat daya tawar menawar pemain menjadi sangat tinggi.

Kemudian para pemain bisa memaksa pihak klub untuk menaikan gajinya dengan cara memperpanjang kontrak atau sang pemain akan menolak perpanjang kontrak yang akan berimbas pada menjual si pemain dengan harga murah sebelum kontrak habis atau kehilangan pemain secara cuma-cuma.

Rebutbola.com