Sepakbola dan Hubungan Mesranya dengan Doping

Sepakbola dan Hubungan Mesranya dengan Doping

122
0
SHARE
Sejarah, Pemain dan Regulasi Doping dalam Sepakbola

Maradona Jadi Pesepakbola Pertama yang Mendapatkan Sanksi Akibat Doping

Rebutbola – Nilai sportivitas dalam beberapa cabang olahraga sering ternoda oleh pemakaian obat doping yang dikonsumsi atletnya. Tak terkecuali sepakbola, persaingan yang semakin ketat membuat sebagian pesepakbola sering menghalalkan berbagai cara. Apalagi ada sebagian pemain yang bernafsu meningkatkan prestasi dengan berbagai cara, misalnya latihan yang lebih keras, memanfaatkan kemajuan teknologi, atau bahkan lewat jalan pintas yaitu menenggak obat doping demi meningkatkan performa dan juga prestasi.

Berikut beberapa kasus doping yang yang terjadi di dunia sepakbola:

1. Skuat Jerman (1954)

Sejarah, Pemain dan Regulasi Doping dalam Sepakbola
Jerman Barat ketika merayakan kemenangan di Piala Dunia 1954

Penggunaan doping dalam dunia sepakbola tercatat pertama kali pada Piala Dunia 1954. Dalam edisi ini, Hungaria berjaya dengan aksi brilian legendanya Ferenc Puskas. Hungaria berhasil mengalahkan Jerman Barat dengan skor telak 8-3 pada fase grup. Kedua tim kemudian bertemu lagi pada babak final dan yang mengejutkan, Jerman Barat kemudian berhasil menang 3-2.

Setelah partai final tersebut berakhir diindikasi bahwa beberapa pemain Jerman Barat mengkonsumsi Pervitin sebelum pertandingan. Pervitin adalah obat yang digunakan tentara Jerman saat perang dunia untuk menekan rasa takut.

2. Inter Milan (1960)

Sejarah, Pemain dan Regulasi Doping dalam Sepakbola
Skuad Inter Milan 1959/60

Inter Milan pada tahun 1960-an memang sangat fenomenal. Di bawah asuhan Helenio Herrera, tim ini berhasil memenangkan 2 kali Piala Champions Eropa dan 1 kali menjadi runner up. Pada autobiografi salah satu mantan pemain Inter Milan pada masa itu dituliskan bahwa Herrera selalu memberikan setiap pemain sebuah pil yang harus diletakan di bawah lidah sebelum bertanding.

Diduga pil tersebut adalah sebuah stimulan yang berfungsi untuk meningkatkan detak jantung.

3. Maradona (1994)

Sejarah, Pemain dan Regulasi Doping dalam Sepakbola
Maradona terlihat menggebu-gebu di Piala Dunia 1994

Kasus ini tentu sudah diketahui banyak orang. Kasus ini pula yang kemudian membuat sepakbola mulai serius menangani masalah doping. Kali ini giliran legenda Argentina, Diego Maradona. Aksi menggebu-gebunya saat Piala Dunia 1994 membuatnya dicurigai menggunakan zat terlarang.

Setelah dilakukan pemeriksaan, Maradona positif mengkonsumsi ephedrine, norephedrine, preudoephedrine, norpseudoephedrine, dan metephedrine. Zat-zat ini adalah sejenis stimulan yang membuat seseorang memiliki tenaga berlebih sehingga membuatnya sangat bersemangat.

4. Adrian Mutu

Sejarah, Pemain dan Regulasi Doping dalam Sepakbola
Mutu beberapa kali terkena kasus doping di sejumlah klub yang berbeda

Kasus yang melibatkan pencetak gol terbanyak Rumania, Adrian Mutu ini sampai berulang beberapa kali. Setelah gagal bersinar, Adrian Mutu dipecat Chelsea karena memakai kokain, lalu menghadapi tuntutan hukum.

Mutu kemudian diambil Juventus lalu Fiorentina. Di klub yang disebut terakhir ini Mutu kena kasus doping lagi dengan zat yang sama, lalu dihukum selama sembilan bulan, dipecat klub, kemudian sempat bermain untuk Cesena, Ajaccio, dan Petrolul.

Dari keenam aktivitas doping ini, hanya Maradona dan Mutu lah yang kemudian mendapatkan sanksi larangan bermain dan denda. Sisanya tidak ada yang menerima skorsing karena ketika itu sepakbola memang belum melakukan tes doping. Setelah kasus Maradona, sepakbola baru kemudian FIFA rutin melakukan tes doping kepada pemain sepakbola.

Beberapa kasus terkait doping lainnnya:

  1. Zico (1987)
  2. Jaap Stam (2001)
  3. Kolo Toure (2011)

Berikut aturan mengenai doping sepakbola:

World Anti-Doping Agency (WADA) merupakan badan anti doping internasional yang mengatur mengenai doping. Badan ini membuat World Anti-Doping Program untuk memastikan program-program anti doping skala nasional dan internasional berjalan dengan harmonis dan dapat dilakukan dengan efektif. Elemen utama dalam program tersebut adalah :

  • Level 1 – World Anti-Doping Code (WADC)
  • Level 2 – Standard Internasional
  • Level 3 – Petunjuk dan Arahan

Regulasi yang dikeluarkan oleh WADA, tertuang dalam kesepakatan berbentuk WADC (World Anti-Doping Code). WADC dikeluarkan pada tahun 2003 dan efektif berlaku pada tahun 2004. Dalam perjalanannya, WADC telah diamandemen pada tahun 2009. Amandemen WADC kedua pun akan berlaku pada awal tahun 2015 dengan adanya WADC final draft 2014. Tujuan utama dari WADC adalah untuk menjaga hak dasar atlet, termasuk pesepakbola dalam berkompetisi secara bebas doping dan mempromosikan kesehatan, sportivitas/fairplay, dan kesamaan semua atlet dunia serta memastikan program-program anti doping di level nasional dan internasional berjalan harmonis, terkoordinasi dan efektif untuk mendeteksi dan mencegah doping.

Berikut merupakan jenis-jenis doping beserta kegunaannya:

1. Anabolik steroid androgenik (AAS)

AAS adalah hormon testosteron sintetis. AAS dilarang penggunaanya dilarang karena merupakan agen anabolik yang dapat meningkatkan kinerja seorang atlet, menyebabkan sang atlet tidak sportif. Atlet menggunakannya untuk meningkatkan ukuran dan kekuatan otot, mengurangi jumlah waktu yang diperlukan untuk pulih setelah latihan, dan untuk berlatih lebih keras dalam jangka waktu yang lama. Contoh zat dari jenis doping ini adalah androstenediol, epistestosterone dan prasterone.

2. Peptides Hormones

Hormon peptida adalah zat yang diproduksi oleh kelenjar dalam tubuh dan setelah beredar melalui darah, zat ini dapat mempengaruhi organ-organ dan jaringan lain untuk mengubah fungsi tubuh. Atlet menggunakannya untuk merangsang produksi hormon alami, meningkatkan pertumbuhan otot dan kekuatan, dan menambah produksi sel darah merah yang bisa meningkatkan kemampuan darah untuk membawa oksigen. ntoh dari zat hormon peptida adalah erythropoiesis-stimulating agents, Corticotrophins, dan growth hormons (seperti fibroblast growth factors/FGFs).

3. Diuretic dan Masking Agent 

Agen masking adalah produk yang berpotensi dapat menyembunyikan keberadaan zat terlarang dalam urin atau sampel lainnya yang memungkinkan dan memperoleh keunggulan kompetitif yang tidak adil dalam proses pengujian. Yang termasuk ke dalam diuretic contohnya adalah acetazolamide, bumetanide dan thiazides.

4. Stimulants

Stimulan adalah obat yang digunakan untuk meningkatkan aktivitas fisik dan kewaspadaan dengan meningkatkan gerak jantung dan pernapasan serta meningkatkan fungsi otak. Atlet menggunakannya untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam latihan pada tingkat yang optimal serta dapat menekan kelelahan tempur dan nafsu makan. Beberapa contohstimulants adalah kokain, adrafinil, benzfetamine, cathine dan cathinon.

Beberapa jenis doping lainnya:

  1. Beta-2 Agonists
  2. Hormone dan Metabolic Modulator
  3. Narcotic Analgesics
  4. Glucocorticosteroids
Rebutbola.com