Menilik Perjalanan Guardiola dan Mourinho Awal Musim Ini

Menilik Perjalanan Guardiola dan Mourinho Awal Musim Ini

105
0
SHARE
Menilik Perjalanan Guardiola dan Mourinho Awal Musim Ini

Guardiola Buktikan Kesuksesan ‘Tiki-Taka’ di Liga Premier

Rebutbola – Pep Guardiola datang ke Liga Premier untuk menahkodai Manchester City di awal musim lalu. Meski telah meraih banyak trofi, banyak pihak yang pesimis dengan manajer yang satu ini. Sebab, dua klub yang ia asuh sebelumnya yaitu Barcelona dan Bayern Munchen merupakan dua klub top yang begitu dominan di liga mereka masing-masing.

Bersama Barcelona, Pep hanya memiliki satu rival di La Liga yaitu Real Madrid, dan mungkin Atletico Madird. Dengan adanya seorang Lionel Messi seakan pekerjaan menjadi lebih mudah untuk meraih hasil positif. Terlebih skuat Barca sedang dalam masa keemasan yang dalam satu dekade terakhir sangat berkualitas. Di Bayern? Tidak perlu disebutkan. Hanya Borussia Dortmund saja rival ‘terberat’ mereka di Bundesliga. Itu pun Dortmund dianggap memiliki level yang belum setara dengan Raksasa Bavaria.

Menilik Perjalanan Guardiola dan Mourinho Awal Musim Ini
Pep Guardiola, manajer yang identik dengan kepemilikan bola

Liga Inggris dianggap sulit dan kompetitif. Pep dianggap akan kesulitan untuk beradaptasi dengan kerasnya Liga Premier. Namun faktanya? Mantan pelatih Barca ini dengan gaya kepemilikan bolanya terbilang sangat sukses di awal karirnya bersama City. Enam laga awal liga, enam kemenangan. Tidak hanya itu, ia bahkan meraih 100% kemenangan dari sembilan laga kompetitif bersama The Citizens. Pencapaian yang sungguh fantastis bagi seseorang yang baru menjajaki ‘tanah’ baru.

[Baca juga: Guardiola: ManCity Klub Sampah]

[Baca juga: Daftar Korban Guardiola di Manchester City]

Di sisi lain, Mourinho bukan pelatih sembarangan. Ia selalu menelurkan sejumlah trofi ketika menjadi pelatih atau manajer suatu klub. Mulai dari Chelsea, Inter Milan hingga Real Madrid meraih sejumlah trofi berkat tangan dingin manajer asal Portugal itu. Bersama tim sekelas Porto, bahkan ia berhasil membawa klub itu menjuarai Liga Champions 2002.

Liga Premier bukan tempat yang asing bagi The Special One. Ia sebelumnya telah dua kali mengarungi liga ‘tak terduga’ ini kala menahkodai klub London, Chelsea. Dan dari dua era yang ia jalani bersama The Blues, sejumlah trofi berhasil ia boyong. Namun sayang, cerita terakhirnya di klub yang bermarkas di Stamford Bridge itu tidak berakhir happy ending. Pria berusia 53 tahun itu harus dipecat setelah rentetan hasil buruk hingga pertengahan musim 2015/16.

Menilik Perjalanan Guardiola dan Mourinho Awal Musim Ini
Mourinho, manajer yang terkenal dengan sebutan The Special One

Bersama Manchester United musim ini, ia mencoba tantangan baru. Klub yang dianggap sakral ini memiliki penggemar fanatik yang tidak akan tinggal diam jika klub mengalami situasi yang tidak menyenangkan. Sepeninggalnya Sir Alex Ferguson, dua pelatih terakhir yaitu David Moyes dan Louis van Gaal berakhir dengan pemecatan karena hasil yang kurang maksimal.

[Baca juga: Mourinho Beri Tamparan Keras Bagi Media Inggris]

[Baca juga: Kisah Tentang Mourinho yang Ingin Hancurkan Wajah Wenger]

Trofi Community Shield sudah di tangan. Setelah itu, beberapa laga awal yang dilakoninya bersama Setan Merah berakhir dengan kemenangan. Namun entah kenapa, kekalahan di Derby Manchester kontra City lalu seakan membuat sentuhan magisnya hilang. Dua laga berikutnya melawan Feyenoord di Liga Europa dan Watford di Liga Premier, mereka kembali kalah yang membuat United menelan tiga kekalahan secara beruntun.

Apakah Mou bukan lagi The Special One? Tunggu dulu. Pada akhirnya, Mou berhasil membungkam para kritikus dengan meraih kemenangan di dua laga terakhir. Laga terakhir bahkan berakhir dengan skor telak 4-1 atas juara bertahan liga, Leicester City.

Pep dan Mou sama-sama manajer jempolan. Mereka berhasil membungkam para kritikus tidak hanya dengan ‘lisan’, namun juga dengan aksi nyata performa tim asuhannya di lapangan.

Rebutbola.com