5 Comeback Terbaik Sepanjang Sejarah Sepakbola

5 Comeback Terbaik Sepanjang Sejarah Sepakbola

996
1
SHARE
5 Comeback Terbaik Sepanjang Sejarah Sepakbola
Liverpool ketika menjuarai Liga Champions 2005

The Miracle of Istanbul Tak Akan Pernah Dilupakan Fans Milan dan Liverpool

Sepakbola merupakan olahraga terpopuler di dunia. Banyak hal yang membuat olahraga ini populer mulai dari permainannya yang simpel, kemasan yang menarik dan gol-gol unik yan tercipta di setiap pertandingannya. Bukan hanya itu, terkadang sepakbola menghadirkan kejutan dalam suatu pertandingan. Salah satunya “comeback”.

Comeback adalah sebutan bagi tim yang berhasil membalikan keadaan ketika tertinggal lebih dahulu. Dikutip dari Goal, berikut 5 comeback terbaik sepanjang sejarah sepakbola.

1. Liverpool 3-3 AC Milan (2005)

Liverpool dan AC Milan berlaga di final Liga Champions pada 2005 yang digelar di Stadion Ataturk, Istanbul.

Paruh pertama berakhir mengecewakan bagi kubu The Reds. Jerzy Dudek harus memungut bola tiga kali dari dalam gawangnya usai dijebol Paolo Maldini dan dua gol Hernan Crespo.

Mengira harapan meraih gelar UCL kelima sudah pupus, sebagian Liverpudlian memutuskan meninggalkan stadion. Well, mereka bisa jadi amat menyesal karena melewatkan kans menjadi saksi mata langsung comeback epik skuat Rafa Benitez.

Hanya dalam waktu enam menit saja, Liverpool menyamakan kedudukan melalui tiga gol Steven Gerrard (54’), Vladimir Smicer (56’), dan Xabi Alonso (60’)! Skor 3-3 terus bertahan sampai waktu normal dan extra time habis. Liverpool keluar sebagai juara lewat adu penalti dan peristiwa ini biasa disebut sebagai “The Miracle of Istanbul”.

2. Inter vs Sampdoria

Laga Inter vs Sampdoria terjadi di 18 Serie A 2004/05. Sebelumnya, kedua tim beriringan di posisi keempat dan lima klasifika dengan nilai identik, 27. La Beneamata belum terkalahkan, tapi terlalu banyak menuai hasil seri.

Bagaimanapun, mereka tetap dijagokan menundukkan Blucerchiati. Dipimpin duet Adriano serta Christian Vieri di lini depan, sang tuan rumah bermain dominan tapi selalu gagal dalam penyelesaian akhir.

Buruknya finishing mesti dibayar mahal oleh Inter. Il Samp membuka skor via Max Tonetto di ujung paruh pertama sebelum menambah angka lewat Vitaliy Kutuzo di menit ke-83. Ya, tujuh menit sebelum waktu normal habis.

Kemenangan sudah pasti menjadi milik kubu tamu? Sepertinya demikian. Para Interisti pun berduyun-duyun meninggalkan stadion seolah pasrah menerima kekalahan pertama Nerazzurri.

Namun, faktanya drama baru akan dimulai. Alvaro Recoba, yang membuat permainan Inter kian hidup setelah masuk menggantikan Adriano, mengirim assist untuk dituntaskan pemain pengganti lain, Obafemi Martins (88’).

Memasuki injury time, Bobo Vieri membawa Inter menyeimbangkan kedudukan sebelum Recoba ikut mengoyak jala Sampdoria kawalan Francesco Antonioli melalui tembakan drive sempurna dengan kaki kiri andalannya.

“Incredibile!” teriak sang komentator laga berulang-ulang setelah El Chino memastikan comeback Inter.

3. Jerman 4-4 Swedia (2012)

Usai memukul tuan rumah Republik Irlandia 6-1, Jerman akan kembali membukukan kemenangan telak kala menjamu Swedia di Pra-Piala Dunia zona Eropa.

Setidaknya begitulah indikasi yang terlihat dalam satu jam pertama pertandingan di Berlin. Anak-anak asuh Jogi Low tampil memesona. Dwigol dari Miroslav Klose dan masing-masing satu oleh Per Mertesacker dan Mesut Ozil pun bersarang di gawang Andreas Isaksson.

Tapi situasi yang seakan berjalan terlalu mudah ini justru menjadi awal tragedi Die Nationalmannschaft.

Gol sundulan Zlatan Ibrahimovic menuntaskan umpan Kim Kallstrom di menit ke-62 mulanya tampak seperti sebuah konsolasi semata. Namun setelah itu Mikael Lustig dan Johan Elmander menyusul masuk scoresheet bagi Blagult.

Kegagalan Mertesacker menyapu bola liar dalam kotak penalti pada injury time akhirnya dimaksimalkan Rasmus Elm untuk melepas tendangan voli yang menghunjam masuk ke gawang Manuel Neuer.

Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Jerman gagal menang setelah memimpin empat gol.

4. Bayern Munchen 1-2 Manchester United (1999)

Manchester United identik dengan comeback sejak ditukangi Sir Alex Ferguson, tak terkecuali dalam perjalanan mereka mengakhiri penantian panjang 31 tahun untuk mengangkat kembali titel Liga Champions, yang sekaligus menyempurnakan raihan treble winners pada 1998/99.

Kegigihan Fergie’s Babes sudah tampak ketika mereka mengejar defisit dua gol untuk mengandaskan tuan rumah Juventus 3-2 dalam second leg semi-final.

Kontra Bayern Munchen pada laga puncak di Camp Nou, The Red Devils sudah tertinggal sejak menit keenam lewat gol tendangan bebas Mario Basler, dan mereka terbilang beruntung tidak kemasukan lebih banyak. Sepasang kans Die Roten usai turun minum dimentahkan tiang gawang.

Kendati kalah dari segi permainan hampir di sepanjang laga, mental juara United akhirnya berbicara pada injury time. Dua sepak pojok David Beckham berujung gol-gol Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solskjaer yang memastikan United mengangkat trofi La Orejona lagi setelah lebih dari tiga dekade.

5. Hungaria 2-3 Jerman Barat (1954)

Fakta yang kerap terlupakan dari keberhasilan Jerman Barat menjuarai Piala Dunia untuk pertama kalinya pada 1954 adalah mereka melakukannya dengan tim yang berisikan pemain-pemain amatir!

Ya, liga profesional Jerman, Bundesliga, baru dibentuk sembilan tahun setelah itu. Thus, sukses membekuk generasi emas Hungaria beralias Magical Magyars amat pantas disebut pencapaian fenomenal, terlebih mereka pada awal turnamen sempat dihantam 8-3 oleh tim yang sama.

Tak terkalahkan dalam 32 laga, Hungaria sepertinya akan berjaya pada final di Stadion Wankdorf, Bern. Delapan menit laga berjalan, laskar Gusztav Sebes sudah unggul 2-0 lewat gol-gol Ferenc Puskas, yang sebetulnya kurang fit, dan Zoltan Czibor.

Namun, Jerbar memukul balik dengan dua gol Max Morlock (10’) serta Helmut Rahn (18’). Skor imbang 2-2 bertahan hingga jeda seiring hujan yang mulai mengguyur lapangan.

Perubahan cuaca tak membuat para personel Die Nationalelf harus mengganti sepatu dengan pul yang lebih tinggi karena mereka memperoleh suplai sepatu khusus dari adidas dengan pul yang mudah diganti agar sesuai dengan kondisi lapangan seperti apa pun.

Entah berpengaruh atau tidak, yang jelas Jerbar akhirnya berhasil mengunci skor akhir 3-2 berkat gol kedua Rahn enam menit sebelum peluit panjang berbunyi. “Tor! Tor! Tor! (Gol! Gol! Gol!)”, seru komentator legendaris Jerman, Herbert Zimmermann, menyambut kemenangan negaranya dalam laga yang dikenang sebagai “Das Wunder von Bern” alias Keajaiban Bern tersebut.

(adm)

Rebutbola.com

1 COMMENT